Intan Purnama. Perempuan kecil nan wagu. Tidak tahu apa arti gaul, terlebih bagaimana cara mempraktekkannya.
Memiliki jiwa konvensional sejati, berjalan terlalu cepat dalam keramaian, tidak tahu apa istilah-istilah yang keluar dari mulut bocah metropolitan. Kelakuan ini benar-benar desa.
Gap atau jurang pemisah antara kelompok bahagia (oleh uang, rupa, dan jiwa dominasi yang kuat) dengan kelompok menyedihkan (yang tidak memiliki apapun untuk dibanggakan) sudah begitu akrab dalam kehidupan sosial seperti ini. Bermain bersenang-senang dengan gerombolannya saja, sementara orang lain hanya dianggap sebagai penonton, pemuja, dan kadang pengganggu. Apalah mereka ini.
Semua menjadi tak mudah. Ketika aku memasuki sebuah jurusan keramat: IPS. Benar saja, aku yang ter-"tak-paham-apa-apa". Teman-teman sekelas sophisticated semua. IPS punya selera.
"Kemana pun kakak-kakak itu pergi, yang satu itu pasti nginthil." - asumsi mengenai kata batiniah seorang junior.
Aku pun juga sering bertanya-tanya sendiri kenapa mereka -para teman- mempertaruhkan harga diri mereka untuk menjadi temanku. Dan saat mengeluarkan pertanyaan itu, aku malah dimarahi.
Kalian benar-benar teman yang berhati mulia. Aku sudah nyaris gila karena terlalu banyak merepotkan kalian, menghabiskan waktu kalian yang sangat berharga itu. Atau saat aku depresi terhadap tinggi badanku sendiri lalu mengatakan hal yang tidak-tidak pada Ryeowook dan Chanyeol, dan kalian bisa bersabar meski sudah letih.
Benar-benar merasa harus berterimakasih banyak atas ketulusan hati kalian selama ini, Sobat.
Banyak juga dijumpai ungkapan-ungkapan pesimis kalau-kalau kita tidak akan 'seperti ini' lagi. Kalau-kalau kita jadi canggung setelah sekian lama berpisah, lalu dipertemukan kembali dalam keadaan, jabatan, isi dompet, dan sinar wajah yang berbeda. Atau.. kalau-kalau salah satu dari kita dipanggil Tuhan!
Secara pribadi, aku berpikir bahwa, dalam waktu dekat, kita masih bisa melancong bersama-sama lagi. Tidak terikat kelompok lain seperti saat kita ke Bandung, tidak terikat tugas menyedihkan seperti saat kita ke Bali. Meskipun, yeah, tak akan ber-19 lagi. Dan meskipun jiwa senang-senang kita sudah kerasanya berbeda dengan jiwa senang-senang anak SMA.
Tapi aku benar-benar bersyukur. Dua puluh tahun lagi ketemu, sudah harus sukses!

Aku suka diintili atau mengintili kalian ♥
BalasHapusAh. Ini sedih sekali, Molly! :'|
HapusMoco iki dadi nostalgia campur ngguyu :') (?)
BalasHapusahahha
wkwkwk aku maca kui dadi jiji' dewe.....
BalasHapussedhih yo ora bisa kaya biyen maneh :'|