Copyright © Shitty Burogu
Design by Dzignine
12.7.12

Nggak Masuk UGM

Hai. Pernah mengenal gambar ini?



Ternyata sedikit berdoa dan sedikit berjuang saja tidak cukup. Aku tidak lolos SNMPTN. Anugerah terbesar dari Tuhan untuk hamba-Nya yang sangat nakal.

Kay. Aku tidak tau bagaimana cara bertahan hidup di PT Swasta. Apakah aku akan tergerak untuk lulus cepat-cepat? Masalah baru: apa aku sepintar itu untuk memenuhi target kelulusan yang sok-sokan?

Tidak lupa aku ucapkan selamat kepada yang berhasil masuk PTN, kalian sangat membanggakan.
Anak-anak ini: Adel (HI-UGM), Sinta (Hukum-UGM), Gita (Akuntansi-UNS dengan banntuan Molly udah diralat jadi UNDIP), Ikha (Sosiologi-UGM), Molly (HI-UGM), Mita (Ekonomi-UGM), Umma (Psikologi-UGM), Wiwin (Komunikasi-UGM). Ternyata kelas kita hebat ya ;)

Good night beautiful world. I'm ugly. Now what?
28.5.12

Finally!

Selama ini aku selalu mengeluh habis-habisan. Keluhan tidak mutu khas anak kelas tiga SMA semacam: "Modar, UNAS gari x minggu meneh! Yen biji matematikaku entuk 0 piye?!". Sampai teman-temanku sepet dengerinnya.

Menilik TPM-TPM -walau sudah dikerjakan dengan penuh perjuangan dan perhitungan mentah- yang berakhir dengan nilai menyedihkan, rasanya aku harus meragukan kemampuanku sendiri untuk dapat lulus dengan hasil yang membanggakan tanpa katrolan.

Matematika, yang tak pernah menyerah untuk menyesatkanku dalam belenggu kebodohan, memang mengerikan. Aku sampai menghabiskan tinta kedua spidolku (warna oranye dan merah) hingga tetes terakhir hanya untuk coret-coret latihan berhitung (pertambahan-pengurangan-perkalian-pembagian). Tapi TPM selalu dapat 2, 3, 3 koma, 3 koma, 4, 4 koma, nggak pernah dapat 6. Apakah aku punya benih-benih tidak berkualitas?

Tidak hanya matematika yang kuhiraukan. Tenang saja, meski aku mengeluh dominan pada matematika, aku juga payah pada mata pelajaran lainnya!

Ekonomi. Fuh. Mendapat nilai yang lumayan hanyalah sebuah keberuntungan semata. Mengerjakan soal ekonomi serasa bermain mesin judi. Kalau tidak bisa, tinggal dimasuk-masukkan secara paksa. Gambling. Alhasil, sering mendapat zonk (tapi bukan Riwuk).

Geografi. Sama sekali tidak terpandang dalam ilmu ini. Sering ditunjuk karena tidak menguasai bahan yang akan diujikan. Nyaris selalu melompati soal-soal hitungan dan mengerjakannya belakangan. Lalu kehabisan waktu.

Sosiologi. Membaca kalimat demi kalimat adalah isakan batiniah. Sangat jarang dipelajari karena semakin dipelajari semakin 'semua yang benar akan terasa salah'. Hanya mengandalkan soal-soal yang pasti saja. Sayangnya 'soal pasti' cuma ada 10 % dari keseluruhan.

Duo bahasa. Males sing nerangke. Pokoknya aku juga kangelan.

Semua pikiran pesimis itu akhirnya berakhir dengan ini:

Sorry, pamer. Udah capek dipamerin. Sekarang gantian.


Ucapan terima kasih:

1. Niramaya Laksmitaningtyas
Titisan ilmuwan yang sekarang berhasil lolos Ilmu Ekonomi UGM (selamat yaaa, baby!). Terima kasih sudah dengan sabar mengajariku, meski aku anak pemalas dan manja. Kamu sudah berhasil memompa nilaiku, Mit! Eh tunggu, dulu kita pasang target berapa ya?


Niramaya L.
Buku Favoritnya

2. Kitab Suci
Kitab suci sudah menyimpan puluhan rumus matematika. Menjagaku agar tidak lupa. Menghindarkanku dari kepikunan. Terima kasih banyak, Reyhana N. yang sudah membelikanku kitab suci ini sebagai hadiah ulang tahun.

Kitab Suciku yang Berwarna Pink

3. Pak Bambang Sidik & Pak Pardjo
Terima kasih tak terhingga untuk beliau-beliau yang sudah mengatrol nilai rapor matematikaku habis-habisan. Terima kasih tak terhingga untuk beliau-beliau yang tidak pernah mengataiku "bodho ya mbak.." setelah mendapati nilaiku yang mengenaskan. Terima kasih sudah menjadi guru matematika yang baik, sehingga 15 tahun mendatang apabila aku merindukan beliau-beliau, aku akan benar-benar menangis.

4. Anggota Kelompok Belajar IV (Niramaya L., Mbak Fauzia Firdanisa, Ludhang)
Terima kasih sudah menjadi kelompok yang solid. Sudah menjawab pertanyaanku. Sudah membimbingku! Terima kasih!

5. Mr. & Mrs....
Alhamdulillah, aku berhasil lulus dengan nilai yang tidak ngisin-isini (tapi tidak terlalu istimewa juga). Aku tidak mewujudkannya sendirian. Kekuatan terbesar ada pada Tuhan. Dan dorongan dari kalian. Terima kasih banyak. Sukses untuk kita semua!
19.5.12

Terimakasih Sobat!

Intan Purnama. Perempuan kecil nan wagu. Tidak tahu apa arti gaul, terlebih bagaimana cara mempraktekkannya.

Memiliki jiwa konvensional sejati, berjalan terlalu cepat dalam keramaian, tidak tahu apa istilah-istilah yang keluar dari mulut bocah metropolitan. Kelakuan ini benar-benar desa.

Gap atau jurang pemisah antara kelompok bahagia (oleh uang, rupa, dan jiwa dominasi yang kuat) dengan kelompok menyedihkan (yang tidak memiliki apapun untuk dibanggakan) sudah begitu akrab dalam kehidupan sosial seperti ini. Bermain bersenang-senang dengan gerombolannya saja, sementara orang lain hanya dianggap sebagai penonton, pemuja, dan kadang pengganggu. Apalah mereka ini.

Semua menjadi tak mudah. Ketika aku memasuki sebuah jurusan keramat: IPS. Benar saja, aku yang ter-"tak-paham-apa-apa". Teman-teman sekelas sophisticated semua. IPS punya selera.

"Kemana pun kakak-kakak itu pergi, yang satu itu pasti nginthil." - asumsi mengenai kata batiniah seorang junior.

Aku pun juga sering bertanya-tanya sendiri kenapa mereka -para teman- mempertaruhkan harga diri mereka untuk menjadi temanku. Dan saat mengeluarkan pertanyaan itu, aku malah dimarahi.

Kalian benar-benar teman yang berhati mulia. Aku sudah nyaris gila karena terlalu banyak merepotkan kalian, menghabiskan waktu kalian yang sangat berharga itu. Atau saat aku depresi terhadap tinggi badanku sendiri lalu mengatakan hal yang tidak-tidak pada Ryeowook dan Chanyeol, dan kalian bisa bersabar meski sudah letih.

Benar-benar merasa harus berterimakasih banyak atas ketulusan hati kalian selama ini, Sobat.

Banyak juga dijumpai ungkapan-ungkapan pesimis kalau-kalau kita tidak akan 'seperti ini' lagi. Kalau-kalau kita jadi canggung setelah sekian lama berpisah, lalu dipertemukan kembali dalam keadaan, jabatan, isi dompet, dan sinar wajah yang berbeda. Atau.. kalau-kalau salah satu dari kita dipanggil Tuhan!

Secara pribadi, aku berpikir bahwa, dalam waktu dekat, kita masih bisa melancong bersama-sama lagi. Tidak terikat kelompok lain seperti saat kita ke Bandung, tidak terikat tugas menyedihkan seperti saat kita ke Bali. Meskipun, yeah, tak akan ber-19 lagi. Dan meskipun jiwa senang-senang kita sudah kerasanya berbeda dengan jiwa senang-senang anak SMA.

Tapi aku benar-benar bersyukur. Dua puluh tahun lagi ketemu, sudah harus sukses!