Copyright © Shitty Burogu
Design by Dzignine
22.9.11

Jelang Siang, eh Jelang Mid

Sepertinya aku tidak menepati janjiku setahun lalu. Menebar janji ini-itu, kemudian pura-pura lupa. Ah, jadi ingat berita-berita di MetroTV yang menggelisahkan rakyat (?)

".....apa? Biji matematikaku 3? Walah, ga masalah.. kan masih kelas 11.. Kelas 12 belajar ah~~"

Atau...

"Kelas 12 aku harus les bimbingan belajar! Tidak boleh banyak bermain dengan para dewa (Donghae, Siwon, Leeteuk, etc.)!"

Dan sekarang apa? Sudah mau Ulangan Tengah Semester, dan aku masih berada di kotak infak jahiliyah.

Aku bukan artis seperti Moon Geun Young. Tak ada jadwal syuting ataupun manggung. Aku punya banyak sekali waktu luang. Tapi aku terlalu sia-sia.

Kugunakan sebagian besar waktuku untuk mencari gambar-gambar halal para dewa. Melihat detailnya hingga ke kerutannya segala. Menikmati setiap keindahan yang mereka pancarkan. Lalu mati dalam kekaguman yang bertepuk sebelah tangan.

Sad ending memang. Tapi ini bersifat adiktif. Aku tidak tahu bagaimana caranya berhenti, dan prosesnya pasti sedih sekali (tolong bayangkan perokok berat yang galau karena nggak sanggup menghentikan kecanduannya sama rokok).

Jadi kalau jam 7-8, Gita, Lotta, dan Moli sedang membuka buku dan/ pekerjaan rumah, aku sibuk sendiri. Melihat layar laptop sambil drooling. Sekedar info, yang bikin drooling adalah tumblr dan youtube yang halal. Bukan yang lain.

Yang seharusnya dilakukan anak kelas 12 adalah berpikiran fokus. Tidak peduli punya teman atau tidak. Toh, masa-masa bermain kelas 11 juga sudah usai. Yang penting lulus, dapat PTN bagus!

Sederhana, kan?

Tapi, menyedihkan sekali. Aku berusaha fokus cuma pelajaran tertentu: seni budaya (karena kesenengen nuthuk-nuthuki tembaga), sosiologi (sekedar menghargai perasaan Bu Win), olah raga (karena bisa berlarian autis kesana kemari--meskipun kalau ambil nilai mulai cemas).

Lainnya.. usaha minim. Yang paling parah adalah matematika: nihil. Aku tidak pernah mendengarkan Pak Parjo, Bu Ari, dan Pak Maman (cara baca Prancis: mamong) ketika mereka menjelaskan. Aku hanya duduk di bangku, tak bergerak satu senti pun, tangan sedingin es apollo, sambil menahan perut yang kepeseng. Aku fobia angka.

Semua menjadi semakin gawat setelah sebuah geng berhasil dibentuk. Geng terselubung itu bernama Geng Kelinci.

Nama geng: Geng Kelinci
Julukan keren: Rabbit Brotherhood
Hari didirikan: Sabtu
Tanggal didirikan: Dirahasiakan
Anggota: Gepeng (hot bunny), Inten (cute bunny), Rehana (sexy bunny)
Aktivitas: Melakukan kegiatan terselubung guna menghindari hal-hal negatif yang selama ini terselubung

Kami terbentuk atas dasar kemistri. Kami sama rasa, sama pikiran, sama cita. Geng ini sama sekali tidak eksis, bahkan baru kali ini kami memproklamirkan eksistensi kami. Dan poin terpentingnya adalah.. geng kami tidak berbahaya seperti geng motor atau pun geng sekolah yang hobinya tawur dan minum ciu. Sehingga dapat kami yakini bahwa Geng Kelinci akan tetap ada, meskipun kami sudah punya kehidupan sendiri-sendiri suatu saat kelak.

Aku selalu berpikir Moli adalah tipe pelajar ideal.

Dia bisa semua pelajaran. Dari matematika (nilainya 9 koma!) sampai seni budaya. Prestasi dia mulus sekali, semulus pupu Pimchanok.

Tidak malu bertanya. Selalu bisa menjawab kalo ditanyai. Mudah memahami segalanya. Brilian.

Dipuja guru, disegani teman. Dia siswi paling keren satu angkatan. Jika ada laki-laki yang bingung mau cari pacar yang ideal, saya sarankan sama dia saja. Masa depan cerah, karena Molly akan jadi orang besar suatu saat nanti. Tapi kabar buruknya, dia mencari sosok lelaki yang minimal Kyuhyun. Jadi, menyerahlah (adviser yang tidak konsisten -kata Bu Retno).

Setelah lama aku memendam 'kenapa aku bukan yang bisa segalanya seperti dia', akhirnya kulepaskan keinginan itu. Satu menit setelah mendapati kuku jempolnya biru menyedihkan karena kejepit pintu mobil.

Aku tau itu sakit sekali. Dia berusaha menahan tangisnya, tapi tetap tak bisa. Dan sekarang, bentuk jempol itu menjadi sangat tragis. Aku berusaha menghindari pandanganku dari jempol Moli, karena melihat itu level kengeriannya sama dengan melihat Sergap yang serem-serem.

Benar. Tuhan menunjukkan sesuatu padaku..... Aku bersyukur jadi diriku. Jempolku tak apa-apa dan kukunya bersinar.

Cepat sembuh, Molly. Semoga bisa menulis dan memencet hape dengan sempurna lagi.

Aku tidak tahu harus bagaimana lagi selanjutnya. Aku capek. Tidak usah kulanjutkan ya. Sebenernya inti dari semua ini hanyalah aku mau cerita tentang Geng Kelinci dan jempol Molly. Yang depan-depan cuma biar ketok sok-sokan.
20.7.11

Derita Akhir Jaman

Bukan kahanan yang salah. Memang aku sendiri yang senang bersantai hingga akhirnya repot di akhir jaman. Yep, aku sekarang sudah kelas XII.

Kau tau Jakarta, kota ramai dengan penduduk yang membludak. Macet, banjir, kriminalitas, kesenjangan, dan yang terpenting persaingan--mengingat sekarang banyak pegawai yang bekerja dengan sistem kontrak. Pokoke sapa le ra edan, ra bakal keduman. Kehidupan di Jakarta itu keras.

Kira-kira seperti itu gambarannya. Kehidupan di kelas XII itu juga keras.

Kelas XI dulu, mungkin aku bisa saja santai terlambat ngenol dengan alasan ringan tapi mustajab: sakit perut. Terus pas udah sampai kelas, alih-alih nggarap soal, pikiranku malah melayang-layang ke kahyangan.

Dulu aku bisa saja guyon nggedebus nggambus, dengan suara ngakak annoying yang bahkan terdengar sampai Own Cafe. Nyacati orang, padahal diri sendiri jauh lebih wagu. Membikin lelawak ("lelawak" itu satu level lebih tinggi dari "lelucon") yang hanya bisa dilontarkan dari mulut manusia-manusia istimewa. Njuk mburi-mburine ada yang ngompol, ada yang nangis, ada yang ngeces. 

Dulu betapa sering kami karokean (jangan bilang aku sugih duit, aku nek karokean ki dibayarin orang). Dengan lagu wajib I Heart You (SM*SH), Liu Xing Yi (F4), Can't Help Fallin' in Love With You (F4). Mereka selalu kami play di awal menit. Sisa waktu kami gunakan untuk bernyanyi lagu-lagu Armada, dan sebangsanya (Kopi Dangdut juga termasuk). Kalau pas di HapPup, lagu-lagu SuJu! Bahkan sampai diulang-ulang...

Dan saat kita bermain bergembira bersama-sama. Alkid. Sekaten. Prima Elektrik. Musiro. Oseng-oseng mercon. Kediaman Pak Mardi nun jauh di sana. Bahkan burjonan dimana hapeku hilang...

Aissshhhh... Aku akan merindukan saat-saat itu. Besok-besok, ngga akan aku temukan lagi momen yang lebih indah daripada ini, bahkan momen dengan mz anu sekali pun.

Tapi aku harus eling jaman. Inti hidup itu bukan buat senang-senang, melainkan buat berjuang. Yap, berjuang. "Semangat" itu berakhir nol kalau cuma mantap di mulut dan hati, tapi tindakan tidak mengiringi. Berjuang itu... lebih konkret! (Omonganku sok-sokan lan ganyonte-et-un!!!) Cara baca lafal Prancis: ngganyongteaong.

Aku tau aku pah-poh (terlintas wajah kosong Gilang "Derby" yang putus asa melafalkan ça va!). Apalagi gang matematika. Sejak SD, di otakku sudah tertanam keyakinan bahwa matematika bukan jalan hidupku. Bahkan kelas 6 SD adalah debutku mendapat prestasi hitam. Saat itu aku mencetak nilai 3, sementara yang lain pada 6. Tapi Tuhan memang Maha Pengasih. Aku selamat di dua Ujian Nasional. Bukan faktor otak, melainkan doa. Karma Miracle does exist.

Sekarang aku kesusahan setiap pelajaran Pak Pardjo dan Bu Ari. Apalagi nek udah ditunjuk-tunjuk! Whoah, tersiksa tenan... Kadang aku berpikir aku ini seorang edi, ediot. Karena untuk sekedar menghitung pun, aku lambat.

Bagaimana bisa aku masuk ke PTN yang kuinginkan jika aku masih berada dalam intelijensi baladah macam ini? Astaga...

Aku sekarang sudah berusaha nggak aneh-aneh pas pelajaran. Selalu melihat ke arah papan tulis, meskipun nggak dong itu apa yang sedang dibahas. Mau tanya juga ntar dikirane sok-sokan antusias. Kebablasen nganti dicap sok tau, "wikipedia berjalan", lsp. Jadi kalo nggak tahu, ya tanya Rehana aja. Nek dia juga nggak tau, selesai sudah. Kami tertawa bersama dalam kekopongan.

Aku sekarang sudah berusaha duduk di barisan agak depan. Karena pengalamanku membuktikan bahwa duduk di belakang itu mudah memecahkan konsentrasi. Kalo duduk di depan kan mau tidak mau suara guru terdengar, njuk sadar atau tak sadar, bakal ada sesuatu yang terserap ke otak. Kecuali kalo cuma terserap njuk bablasss.. Itu murid kacau.

Aku mengurangi jadwal bermainku, bahkan bermain bersama Owen dan antek-anteknya pun taksuda (baca: ta'sudo). Ketemu mereka pun seminggu sekali. Sedih rasanya...

Aku dah jarang keluyuran keluar kelas, kecuali yen kebelet, dan lapar sekali. Mencoba ndhekem, ngengrem, tur jika kepepete jalan-jalan thok-thokmen invisible. Perwujudan dari jiwa yang tenang tak mau diganggu keramaian (alasan dari jiwa yang isinan dan takut orang).

Dimulai dari prihatin (literally), ngrungokke nek diwulang, nggak mengulang kesalahan pas kelas XI, dll (tentunya tanpa ambisi yang keterlaluan, yang justru bisa mematikan--lha aku ki yo eling kemampuan). Semoga... untuk ketiga kalinya miracle does exist.

(Soundtrack penutup: bersama kita bisa~)