Copyright © Shitty Burogu
Design by Dzignine
20.7.11

Derita Akhir Jaman

Bukan kahanan yang salah. Memang aku sendiri yang senang bersantai hingga akhirnya repot di akhir jaman. Yep, aku sekarang sudah kelas XII.

Kau tau Jakarta, kota ramai dengan penduduk yang membludak. Macet, banjir, kriminalitas, kesenjangan, dan yang terpenting persaingan--mengingat sekarang banyak pegawai yang bekerja dengan sistem kontrak. Pokoke sapa le ra edan, ra bakal keduman. Kehidupan di Jakarta itu keras.

Kira-kira seperti itu gambarannya. Kehidupan di kelas XII itu juga keras.

Kelas XI dulu, mungkin aku bisa saja santai terlambat ngenol dengan alasan ringan tapi mustajab: sakit perut. Terus pas udah sampai kelas, alih-alih nggarap soal, pikiranku malah melayang-layang ke kahyangan.

Dulu aku bisa saja guyon nggedebus nggambus, dengan suara ngakak annoying yang bahkan terdengar sampai Own Cafe. Nyacati orang, padahal diri sendiri jauh lebih wagu. Membikin lelawak ("lelawak" itu satu level lebih tinggi dari "lelucon") yang hanya bisa dilontarkan dari mulut manusia-manusia istimewa. Njuk mburi-mburine ada yang ngompol, ada yang nangis, ada yang ngeces. 

Dulu betapa sering kami karokean (jangan bilang aku sugih duit, aku nek karokean ki dibayarin orang). Dengan lagu wajib I Heart You (SM*SH), Liu Xing Yi (F4), Can't Help Fallin' in Love With You (F4). Mereka selalu kami play di awal menit. Sisa waktu kami gunakan untuk bernyanyi lagu-lagu Armada, dan sebangsanya (Kopi Dangdut juga termasuk). Kalau pas di HapPup, lagu-lagu SuJu! Bahkan sampai diulang-ulang...

Dan saat kita bermain bergembira bersama-sama. Alkid. Sekaten. Prima Elektrik. Musiro. Oseng-oseng mercon. Kediaman Pak Mardi nun jauh di sana. Bahkan burjonan dimana hapeku hilang...

Aissshhhh... Aku akan merindukan saat-saat itu. Besok-besok, ngga akan aku temukan lagi momen yang lebih indah daripada ini, bahkan momen dengan mz anu sekali pun.

Tapi aku harus eling jaman. Inti hidup itu bukan buat senang-senang, melainkan buat berjuang. Yap, berjuang. "Semangat" itu berakhir nol kalau cuma mantap di mulut dan hati, tapi tindakan tidak mengiringi. Berjuang itu... lebih konkret! (Omonganku sok-sokan lan ganyonte-et-un!!!) Cara baca lafal Prancis: ngganyongteaong.

Aku tau aku pah-poh (terlintas wajah kosong Gilang "Derby" yang putus asa melafalkan ça va!). Apalagi gang matematika. Sejak SD, di otakku sudah tertanam keyakinan bahwa matematika bukan jalan hidupku. Bahkan kelas 6 SD adalah debutku mendapat prestasi hitam. Saat itu aku mencetak nilai 3, sementara yang lain pada 6. Tapi Tuhan memang Maha Pengasih. Aku selamat di dua Ujian Nasional. Bukan faktor otak, melainkan doa. Karma Miracle does exist.

Sekarang aku kesusahan setiap pelajaran Pak Pardjo dan Bu Ari. Apalagi nek udah ditunjuk-tunjuk! Whoah, tersiksa tenan... Kadang aku berpikir aku ini seorang edi, ediot. Karena untuk sekedar menghitung pun, aku lambat.

Bagaimana bisa aku masuk ke PTN yang kuinginkan jika aku masih berada dalam intelijensi baladah macam ini? Astaga...

Aku sekarang sudah berusaha nggak aneh-aneh pas pelajaran. Selalu melihat ke arah papan tulis, meskipun nggak dong itu apa yang sedang dibahas. Mau tanya juga ntar dikirane sok-sokan antusias. Kebablasen nganti dicap sok tau, "wikipedia berjalan", lsp. Jadi kalo nggak tahu, ya tanya Rehana aja. Nek dia juga nggak tau, selesai sudah. Kami tertawa bersama dalam kekopongan.

Aku sekarang sudah berusaha duduk di barisan agak depan. Karena pengalamanku membuktikan bahwa duduk di belakang itu mudah memecahkan konsentrasi. Kalo duduk di depan kan mau tidak mau suara guru terdengar, njuk sadar atau tak sadar, bakal ada sesuatu yang terserap ke otak. Kecuali kalo cuma terserap njuk bablasss.. Itu murid kacau.

Aku mengurangi jadwal bermainku, bahkan bermain bersama Owen dan antek-anteknya pun taksuda (baca: ta'sudo). Ketemu mereka pun seminggu sekali. Sedih rasanya...

Aku dah jarang keluyuran keluar kelas, kecuali yen kebelet, dan lapar sekali. Mencoba ndhekem, ngengrem, tur jika kepepete jalan-jalan thok-thokmen invisible. Perwujudan dari jiwa yang tenang tak mau diganggu keramaian (alasan dari jiwa yang isinan dan takut orang).

Dimulai dari prihatin (literally), ngrungokke nek diwulang, nggak mengulang kesalahan pas kelas XI, dll (tentunya tanpa ambisi yang keterlaluan, yang justru bisa mematikan--lha aku ki yo eling kemampuan). Semoga... untuk ketiga kalinya miracle does exist.

(Soundtrack penutup: bersama kita bisa~)