Sepertinya aku tidak menepati janjiku setahun lalu. Menebar janji ini-itu, kemudian pura-pura lupa. Ah, jadi ingat berita-berita di MetroTV yang menggelisahkan rakyat (?)
".....apa? Biji matematikaku 3? Walah, ga masalah.. kan masih kelas 11.. Kelas 12 belajar ah~~"
Atau...
"Kelas 12 aku harus les bimbingan belajar! Tidak boleh banyak bermain dengan para dewa (Donghae, Siwon, Leeteuk, etc.)!"
Dan sekarang apa? Sudah mau Ulangan Tengah Semester, dan aku masih berada di kotak infak jahiliyah.
Aku bukan artis seperti Moon Geun Young. Tak ada jadwal syuting ataupun manggung. Aku punya banyak sekali waktu luang. Tapi aku terlalu sia-sia.
Kugunakan sebagian besar waktuku untuk mencari gambar-gambar halal para dewa. Melihat detailnya hingga ke kerutannya segala. Menikmati setiap keindahan yang mereka pancarkan. Lalu mati dalam kekaguman yang bertepuk sebelah tangan.
Sad ending memang. Tapi ini bersifat adiktif. Aku tidak tahu bagaimana caranya berhenti, dan prosesnya pasti sedih sekali (tolong bayangkan perokok berat yang galau karena nggak sanggup menghentikan kecanduannya sama rokok).
Jadi kalau jam 7-8, Gita, Lotta, dan Moli sedang membuka buku dan/ pekerjaan rumah, aku sibuk sendiri. Melihat layar laptop sambil drooling. Sekedar info, yang bikin drooling adalah tumblr dan youtube yang halal. Bukan yang lain.
Yang seharusnya dilakukan anak kelas 12 adalah berpikiran fokus. Tidak peduli punya teman atau tidak. Toh, masa-masa bermain kelas 11 juga sudah usai. Yang penting lulus, dapat PTN bagus!
Sederhana, kan?
Tapi, menyedihkan sekali. Aku berusaha fokus cuma pelajaran tertentu: seni budaya (karena kesenengen nuthuk-nuthuki tembaga), sosiologi (sekedar menghargai perasaan Bu Win), olah raga (karena bisa berlarian autis kesana kemari--meskipun kalau ambil nilai mulai cemas).
Lainnya.. usaha minim. Yang paling parah adalah matematika: nihil. Aku tidak pernah mendengarkan Pak Parjo, Bu Ari, dan Pak Maman (cara baca Prancis: mamong) ketika mereka menjelaskan. Aku hanya duduk di bangku, tak bergerak satu senti pun, tangan sedingin es apollo, sambil menahan perut yang kepeseng. Aku fobia angka.
Semua menjadi semakin gawat setelah sebuah geng berhasil dibentuk. Geng terselubung itu bernama Geng Kelinci.
Nama geng: Geng Kelinci
Julukan keren: Rabbit Brotherhood
Hari didirikan: Sabtu
Tanggal didirikan: Dirahasiakan
Anggota: Gepeng (hot bunny), Inten (cute bunny), Rehana (sexy bunny)
Aktivitas: Melakukan kegiatan terselubung guna menghindari hal-hal negatif yang selama ini terselubung
Kami terbentuk atas dasar kemistri. Kami sama rasa, sama pikiran, sama cita. Geng ini sama sekali tidak eksis, bahkan baru kali ini kami memproklamirkan eksistensi kami. Dan poin terpentingnya adalah.. geng kami tidak berbahaya seperti geng motor atau pun geng sekolah yang hobinya tawur dan minum ciu. Sehingga dapat kami yakini bahwa Geng Kelinci akan tetap ada, meskipun kami sudah punya kehidupan sendiri-sendiri suatu saat kelak.
Aku selalu berpikir Moli adalah tipe pelajar ideal.
Dia bisa semua pelajaran. Dari matematika (nilainya 9 koma!) sampai seni budaya. Prestasi dia mulus sekali, semulus pupu Pimchanok.
Tidak malu bertanya. Selalu bisa menjawab kalo ditanyai. Mudah memahami segalanya. Brilian.
Dipuja guru, disegani teman. Dia siswi paling keren satu angkatan. Jika ada laki-laki yang bingung mau cari pacar yang ideal, saya sarankan sama dia saja. Masa depan cerah, karena Molly akan jadi orang besar suatu saat nanti. Tapi kabar buruknya, dia mencari sosok lelaki yang minimal Kyuhyun. Jadi, menyerahlah (adviser yang tidak konsisten -kata Bu Retno).
Setelah lama aku memendam 'kenapa aku bukan yang bisa segalanya seperti dia', akhirnya kulepaskan keinginan itu. Satu menit setelah mendapati kuku jempolnya biru menyedihkan karena kejepit pintu mobil.
Aku tau itu sakit sekali. Dia berusaha menahan tangisnya, tapi tetap tak bisa. Dan sekarang, bentuk jempol itu menjadi sangat tragis. Aku berusaha menghindari pandanganku dari jempol Moli, karena melihat itu level kengeriannya sama dengan melihat Sergap yang serem-serem.
Benar. Tuhan menunjukkan sesuatu padaku..... Aku bersyukur jadi diriku. Jempolku tak apa-apa dan kukunya bersinar.
Cepat sembuh, Molly. Semoga bisa menulis dan memencet hape dengan sempurna lagi.
Aku tidak tahu harus bagaimana lagi selanjutnya. Aku capek. Tidak usah kulanjutkan ya. Sebenernya inti dari semua ini hanyalah aku mau cerita tentang Geng Kelinci dan jempol Molly. Yang depan-depan cuma biar ketok sok-sokan.
