Selama ini aku selalu mengeluh habis-habisan. Keluhan tidak mutu khas anak kelas tiga SMA semacam: "Modar, UNAS gari x minggu meneh! Yen biji matematikaku entuk 0 piye?!". Sampai teman-temanku sepet dengerinnya.
Menilik TPM-TPM -walau sudah dikerjakan dengan penuh perjuangan dan perhitungan mentah- yang berakhir dengan nilai menyedihkan, rasanya aku harus meragukan kemampuanku sendiri untuk dapat lulus dengan hasil yang membanggakan tanpa katrolan.
Matematika, yang tak pernah menyerah untuk menyesatkanku dalam belenggu kebodohan, memang mengerikan. Aku sampai menghabiskan tinta kedua spidolku (warna oranye dan merah) hingga tetes terakhir hanya untuk coret-coret latihan berhitung (pertambahan-pengurangan-perkalian-pembagian). Tapi TPM selalu dapat 2, 3, 3 koma, 3 koma, 4, 4 koma, nggak pernah dapat 6. Apakah aku punya benih-benih tidak berkualitas?
Tidak hanya matematika yang kuhiraukan. Tenang saja, meski aku mengeluh dominan pada matematika, aku juga payah pada mata pelajaran lainnya!
Ekonomi. Fuh. Mendapat nilai yang lumayan hanyalah sebuah keberuntungan semata. Mengerjakan soal ekonomi serasa bermain mesin judi. Kalau tidak bisa, tinggal dimasuk-masukkan secara paksa. Gambling. Alhasil, sering mendapat zonk (tapi bukan Riwuk).
Geografi. Sama sekali tidak terpandang dalam ilmu ini. Sering ditunjuk karena tidak menguasai bahan yang akan diujikan. Nyaris selalu melompati soal-soal hitungan dan mengerjakannya belakangan. Lalu kehabisan waktu.
Sosiologi. Membaca kalimat demi kalimat adalah isakan batiniah. Sangat jarang dipelajari karena semakin dipelajari semakin 'semua yang benar akan terasa salah'. Hanya mengandalkan soal-soal yang pasti saja. Sayangnya 'soal pasti' cuma ada 10 % dari keseluruhan.
Duo bahasa. Males sing nerangke. Pokoknya aku juga kangelan.
Semua pikiran pesimis itu akhirnya berakhir dengan ini:
![]() |
| Sorry, pamer. Udah capek dipamerin. Sekarang gantian. |
Ucapan terima kasih:
1. Niramaya Laksmitaningtyas
Titisan ilmuwan yang sekarang berhasil lolos Ilmu Ekonomi UGM (selamat yaaa, baby!). Terima kasih sudah dengan sabar mengajariku, meski aku anak pemalas dan manja. Kamu sudah berhasil memompa nilaiku, Mit! Eh tunggu, dulu kita pasang target berapa ya?
![]() |
| Niramaya L. |
![]() |
| Buku Favoritnya |
2. Kitab Suci
Kitab suci sudah menyimpan puluhan rumus matematika. Menjagaku agar tidak lupa. Menghindarkanku dari kepikunan. Terima kasih banyak, Reyhana N. yang sudah membelikanku kitab suci ini sebagai hadiah ulang tahun.
![]() |
| Kitab Suciku yang Berwarna Pink |
3. Pak Bambang Sidik & Pak Pardjo
Terima kasih tak terhingga untuk beliau-beliau yang sudah mengatrol nilai rapor matematikaku habis-habisan. Terima kasih tak terhingga untuk beliau-beliau yang tidak pernah mengataiku "bodho ya mbak.." setelah mendapati nilaiku yang mengenaskan. Terima kasih sudah menjadi guru matematika yang baik, sehingga 15 tahun mendatang apabila aku merindukan beliau-beliau, aku akan benar-benar menangis.
4. Anggota Kelompok Belajar IV (Niramaya L., Mbak Fauzia Firdanisa, Ludhang)
Terima kasih sudah menjadi kelompok yang solid. Sudah menjawab pertanyaanku. Sudah membimbingku! Terima kasih!
5. Mr. & Mrs....
Alhamdulillah, aku berhasil lulus dengan nilai yang tidak ngisin-isini (tapi tidak terlalu istimewa juga). Aku tidak mewujudkannya sendirian. Kekuatan terbesar ada pada Tuhan. Dan dorongan dari kalian. Terima kasih banyak. Sukses untuk kita semua!




