Copyright © Shitty Burogu
Design by Dzignine
3.12.14

Lalai

Hai..

Lama juga ndak ngeblog. Jadi sedikit wagu.. Apalagi ngetike pake hape.

Nganu.

Aku ndak tau kenapa tiba-tiba pengen mbukak blogger lan ngetik sesuatu. Kayake gur ikut-ikutan John Watson. Bedanya nek dia isinya brilian, nek blogku isinya ocehan tidak bermanfaat.

Tapi kayake aku ada cerita lucu (menurutku sih).

Bapakku kemarin cerita tentang masa SMP-nya.

Bapakku dulu sekolah di SMP 1 mBantul (pake m, tapi kecil aja). Bapakku punya teman. Ya ndesa. Sama-sama orang ndesa, tapi temannya bapakku itu tipe kendesaannya bikin ngakak.

Jadi ceritane dia nggak bawa/nggarap PR. Pas di sekolahan ditanyain sama Bu Guru.

percakapan kira-kira, ndak isa mirip 100%
Guru: PR-mu neng endi?
Temene bapakku: ketinggalan di rumah, Bu.
Guru: lha kok bisa ketinggalan??!
Temene bapakku: soalnya saya lalai, Bu.
Guru: lalai.....?

Dikira temene bapakku "lalai" tu bahasa Indonesianya lali.

Menurut keterangan bapakku, di kelas nggak ada satu pun yang ngguyu. Bahkan bapakku nggak ngguyu. Tapi gur mbatin (lan kepikiran bahkan bisa kelingan sampe tahun 2014). Baru ngguyunya kemarin pas aku sama adikku ngakak-ngakak.

Semoga ini lucu. Bye bye. Tunggu cerita lucu berikutnya.
9.2.14

Grojogan Idu

Tadi pagi aku sedang dalam mood tidak-tahu-mau-berbuat-apa. Adikku yang lagi belajar untuk TPM besok habis ngglethekke pianika di lantai (objek refreshing belajarnya adalah alat musik tiup sederhana: suling dan kadang pianika) (lagu yang dimainkan ya itu-itu aja).

Terbersit di pikiran untuk dikit menyebul sebatang (?) pianika yang teronggok ditinggalkan. Aku pun njur nyari-nyari notasi angka di internet dan langsung memainkan lagu Butiran Debu, dan beberapa lagu sing gampang-gampang. Tapi ya tetep grothal-grathul.
Omong-omong tentang pianika, aku punya pengalaman pahit. Lebih pahit dari kepala ikan. Tapi mayan lucu - menurutku sih.

Ini terjadi beberapa tahun silam waktu aku masih duduk di kelas 9 SMP.

Jadi.. dulu pas SMP kami masih berjumpa sama pelajaran seni musik, sekelas disuruh mainin ansambel musik. Sungguh, musik adalah mimpi buruk bagi Q.

Waktu pembagian divisi alat musik, absenku yang dipanggil terakhir (gara-gara neng tengah, 19 dari 38), dan begitulah, kalian bisa menebaknya. Aku dapet koretan: milih pianika apa nyanyi.

Ini ekstrem.

Batinku menjadi cemas, "kenapa harus seperti ini......". Semakin ngerasa zonk, aku milih dadi vokal (merga gak isa mainin pianika).

Akhire setelah gagal audisi, singkat cerita aku pun masuk Divisi Pianika.

Aku: "Pak, tapi saya nggak punya pianika.."
Guru Musik: "Pinjem sekolah, itu ada banyak."

Aku ngerti. Aku ngerti, Pak. Tapi kan.... eneg.

Namun, rupanya dunia tidak peduli dengan penolakan ini.

Dan hari latihan musik pun tiba..

Aku khawatir. Khawatir tentang 'idu siapa yang bakal takcicipi siang ini', berhubung sebelum kelasku, pelajaran musik tu jadwalnya kelas sebelah. Ya pasti bisa dibayangkan wujudnya masih teles.

Saat udah masuk, para anggota Divisi Pianika yang nggak bawa dan nggak punya pianika disuruh ambil di pojokan.

Aku menatap nanar sekumpulan pianika (yang masih dibungkus tas) yang digeletakkan begitu saja dengan menyedihkan di lantai. Dengan penuh motivasi diri yang dipaksakan, salah satu dari pianika tersebut takambil. Inilah gambling yang sesungguhnya.

Para peminjam pianika dipersilakan mencuci pianika terlebih dahulu di kran. Dan pas aku sampe di kran, tas pianika itu mulai takbukak ritnya, dan takkeluarkan pianikanya.

Ngampet hoek.

Dan yang perlu diketahui... elemen paling berbahaya dari pianika pinjaman adalah saluran sebulnya.


Pianika beserta Saluran Sebul yang Menjuntai sumber gambar

Para pejuang-cuci pianika melepas saluran sebul dari batang pianika masing-masing. Aku pun mengikuti jejak mereka dengan penuh kewaspadaan. Dan pas takcopot....

LHERRRRR!!!!

Sang saluran sebul pun beralih fungsi jadi sarana grojogan idu.

Lelehan idu bening, banyak, dan kentel (masih kelingan teksture sampe sekarang). Spontan langsung hoek (hoek udara). Digeguyu temenku yang juga lagi jijik sama saluran sebulnya jatahnya sendiri.

Agar tak ketinggalan latihan, aku pun lekas-lekas ngumbah saluran sebul, sinambi hoek-hoek udara ping akeh. Semakin eneg pula, pas nyuci, airnya nyiprat-nyiprat ke rokku.

Latihan ansamble pun dimulai. Kacau balau, gara-gara: (1) belum isa mbaca not balok; (2) konsentrasi buyar karena nebak-nebak idu siapa yang takleg (dah nebak kuat suspect-nya siapa apabila dicocokke dari bentuk bibir dengan kekenthelan idu); (3) nahan hoek.

Dan selama 3 minggu (mungkin), aku pake pianika sekolah, dan alhamdulillaah habis itu nggak ada grojogan idu lagi, tur tetep eneg (mengubah metode nyebul menjadi sebul-lapis-kerudung). Sampe pada akhirnya aku nggak tahan dan nyuwun bapakku buat mundhutke aku biar aku nggak ijol-ijolan idu sama orang lain lagi.

Dan semenjak saat itu, aku bebas nyebal-nyebul pianikaku tanpa hoek.

Kemudian aku tersadar satu hal: yang nggak berbayar emang jarang ada yang enak. Bahkan dalam hal 'dijajakke' makanan pun karena di balik 'penjajaan' ada keterikatan kebaikan yang sering disalahgunakan.

Nah, dalam hal kemualan dan kenangan buruk yang kualami ini marai pengen nuturi aku dhewe: ha karang gur gratisan, kok njaluk penak...